Selasa, 06 April 2010

ASAL USUL PATUNG REINHA ( TUAN MA )

Kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal lima abad silam. Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka. Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.

Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka.

Resiona mengaku, kala itu dia melihat perempuan cantik dan, ketika ditanya nama serta dari mana datangnya, perempuan tersebut hanya menunduk lalu menulis tiga kata yang tak dipahami Resiona di pasir pantai. Setelah itu, ketika mengangkat mukanya, rupa wanita itu berubah menjadi patung kayu.

Ketiga kata yang ditulis itu lalu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut, sedangkan patung setinggi tiga meter tersebut langsung diarak keliling kampung, memasuki korke, rumah-rumah pemujaan milik setiap suku di sana.

Kendati waktu itu masyarakat setempat belum mengenal patung tersebut, kepala kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen.

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harfiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Masyarakat Lamaholot menyebutnya, Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Menurut Raja Larantuka Don Andreas Martinho DVG, sekitar tahun 1510 itu masyarakat Larantuka sudah melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap Februari, sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu.

Ketika padri dari Ordo Dominikan datang ke kampung itu lalu diminta membaca tiga kata yang ”diabadikan” itu, terbaca: Reinha Rosario Maria.

Ketika melihat patungnya, padri itu terharu dan berkata bahwa itulah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Sekitar tahun 1561, penyebaran agama Katolik oleh Portugis dimulai di Pulau Solor, yang kemudian dikenal misi Solor dengan menetapnya tiga misionaris, yaitu Pater Antonio da Cruz OP, Simao das Chagas OP, dan Bruder Alexio OP, di sana.

Tahun 1617, misionaris Portugis Pastor Manuel de Kagas berhasil memberi masukan pemahaman kepada raja-raja Larantuka. Dia menjelaskan, ”Tuan Ma yang disembah itu sebenarnya bernama Bunda Maria. Dia yang memiliki putra yang disebut Yesus Kristus. Yesus ini sebagai penebus dosa dan pembawa keselamatan”. Sejak itulah orang Larantuka yakin apa yang mereka sembah selama itu ternyata diakui secara universal.

Tahun 1650, Raja I Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Setelah itu, putranya, Raja Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Maria keliling Larantuka.

Dalam perkembangannya, Raja Don Lorenzo I bersumpah kepada Maria atau Tuan Ma dengan memberi gelar tertinggi kepada Maria sebagai raja orang Larantuka.

Oleh karena itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Tuan Ma kemudian diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka. Devosi kepada Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Per Mariam ad Jesum, melalui Maria kita sampai kepada Yesus.

Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa Portugis.

7 komentar:

  1. Terimakasih informasinya

    tuhan memberkati

    BalasHapus
  2. Larantuka memiliki 2 patung, yang satu patung reinha rosari, yang di temukan terdampar, yang mana setelah itu raja menyerahkan tongkat kerajaanya, kemudian patung tersebut sempat di bawa ke vatikan roma dan di buat duplikatnya , dan duplikat itu di kirim kembali ke larantuka tapi tongkat rajanya tetap asli. Jadi patung renya rosari yang kita sekarang ini aslinya ada di roma. Jauh sebelum patung renya ini ada, larantuka sudah punya sebuah patung yang kita sebut TUAN MA, dulu patung ini di jaga pengawal raja yang kemudian bergelar koncredia (setelah raja menjadi katolik) patung TUAN MA ini di taktahkan di atas nagi lama larantuka dahulu prosesi patung TUAN MA di arak dari nagi lama menuju kapela pente besa patung TUAN MA sempat jatuh (karena concrerianya mabok) sehingga satu lengan patah. Kapan patung TUAN MA ini ada di larantuka??? Kita cuma mendapatkan jawaban " MATA LIA MULO TUTO, MULO DOTO BADAN PIKO" setelah dari nagi lama MENTUAN di bawa dan di semayamkan di pante kebis letaknya di belakang kapela TUAN MA sekarang, menurut tutur rang tua patung TUAN MA dan TUAN ANA ada bersamaan yg kita TIDAK pernah tahu kapan, ok

    BalasHapus
    Balasan
    1. MATA LIA MULO TUTO, MULO DOTO BADAN PIKO arti kalimat di atas itu apa bos,maaf kami tdk mengerti.salam dari Bajawa.

      Hapus
  3. Cerita yang sangat miaterius, sy sampai kagun di NTT Kususnya di larantuka, sy baca aetikel ini sampai bulu kudup berdiri .. Kisah yang sangat bagus untuk di abadikan dan untuk di bagikan ke pada duni, slam hangat dri kluarga nanggaroro.. Tuhan Memberkati..

    BalasHapus
  4. Cerita yang sangat miaterius, sy sampai kagun di NTT Kususnya di larantuka, sy baca aetikel ini sampai bulu kudup berdiri .. Kisah yang sangat bagus untuk di abadikan dan untuk di bagikan ke pada duni, slam hangat dri kluarga nanggaroro.. Tuhan Memberkati..

    BalasHapus
  5. Pantesan orang NTT rata" katolik, meksiko dulu mendapat berkat mukzijat ditampakin gambar bunda maria lewat tilma yang namanya our lady guadalupe terus 1 benua amerika latin jadi katolik. Di indo, di NTT memang luar biasa. Sayang bunda mungkin sedih sama nasib anak"nya yang ada di indonesia :(

    BalasHapus
  6. Saya kagum degan kehidupan spiritualitasnya orang Larantuka, Sebelum agama katolik masuk di pulau flores,orang Larantuka sudah mengenal Bunda Maria, ini yang membuat iman katolik orang Larantuka semakin mendalam, hal ini sudah diwariskan dari generasi ke generasi, terbukti disaat prosesi Jumad selain anak muda, anak2 pun selalu dilibatkan dalam upacara ini dan semuanya mengikut dengan penuh hikmad, semoga hal serupa tetap terjaga dengan baik sampai selamanya. Apa mungkin kita harus berdoa dan bernyyi degan menggunakan bahasa portugis untuk megenang bahwa penybran agama Katolik yang ada di Flores melalui misomaris dari portugis, biar lebih terasa ke khasan regius kita..trma kasih

    BalasHapus